Prediksi itu murah. Semua orang membuatnya di bulan Desember dan tidak ada yang menagihnya di bulan Desember tahun berikutnya. Jadi saya melakukannya secara berbeda. Berikut ini tren teknologi untuk pemilik UKM yang saya perkirakan akan membentuk 2023, dan saya berjanji sekarang juga akan kembali Desember tahun depan untuk menilai setiap prediksi ini secara terbuka, jujur, kena atau meleset.
Akuntabilitas itu mengubah cara saya menulisnya. Saya tidak akan mengambil hal-hal yang seru tapi tidak bisa diuji kebenarannya. Saya akan memprediksi hal-hal yang cukup konkret sehingga kita benar-benar bisa menilai apakah saya benar. Empat prediksi, masing-masing berpijak pada apa yang sudah saya saksikan terjadi di 2022.
Jika Anda menjalankan bisnis kecil atau menengah di Indonesia, inilah pergeseran yang akan saya jadikan dasar perencanaan.
Prediksi 1: AI Generatif Berpindah dari Mainan Menjadi Alat Kerja
ChatGPT muncul akhir November dan menggemparkan internet. Prediksi saya bukan bahwa ia akan mengambil alih segalanya. Lebih spesifik dari itu: di 2023, AI generatif berhenti menjadi hal baru yang sekadar dicoba-coba orang dan menjadi bagian normal dari cara tim marketing, admin, dan support menyusun pekerjaan mereka.
Versi realistisnya terdengar biasa saja. Staf marketing Anda memakainya untuk menyusun draf deskripsi produk lalu menyuntingnya. Staf admin Anda memakainya untuk meringkas dokumen panjang. Tidak ada yang mengumumkannya, ia diam-diam menjadi bagian dari perangkat kerja, seperti halnya spellcheck dulu.
Yang tidak saya perkirakan terjadi di 2023 adalah AI yang aman dan tanpa pengawasan menjawab langsung ke pelanggan Anda. Teknologi untuk membatasinya agar sesuai data nyata Anda belum cukup matang. Batasan yang jujur sudah saya paparkan di ChatGPT, hype vs realita: pandangan kerja setelah dua minggu. Nilai saya soal ini: menjadi arus utama untuk penyusunan draf internal, belum bisa dipercaya untuk fakta yang langsung berhadapan dengan pelanggan.
Prediksi 2: Efisiensi Mengalahkan Pertumbuhan Asal Jalan
Musim dingin startup di 2022 bukan sekadar cerita perusahaan teknologi. Ia mereset suasana hati seluruh pasar. Uang murah sudah lenyap, dan bisnis yang akan menarik perhatian di 2023 adalah yang efisien dan menguntungkan, bukan yang membakar uang demi bertumbuh.
Bagi UKM ini kabar baik, karena efisiensi selalu menjadi disiplin Anda. Prediksi saya: belanja teknologi di 2023 bergeser ke alat yang memangkas biaya dan pemborosan, menjauh dari alat yang mengejar pertumbuhan omzet demi pertumbuhan itu sendiri. Para pemilik bisnis akan bertanya "ini menghemat apa buat saya" sebelum bertanya "ini bisa bertumbuh jadi apa."
Langkah praktisnya adalah mengarahkan anggaran teknologi Anda ke kebocoran operasional terbesar lebih dulu. Otomatisasi hal yang paling banyak membuang jam kerja atau uang. Saya sudah membedah cara berpikir soal belanja ini di bisnis Anda butuh strategi teknologi, bukan sekadar website. Nilai saya soal ini: framing efisiensi mendominasi pembelian teknologi UKM di 2023.
Prediksi 3: Aturan Data Mulai Bertaring
Indonesia mengesahkan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi di 2022. Prediksi saya untuk 2023 adalah masa transisi ini mengakhiri era memperlakukan data pelanggan secara sembarangan. Belum tentu berupa penegakan hukum yang jadi headline, tapi cukup ada pergerakan sehingga mengabaikannya berhenti menjadi pilihan yang aman.
Bisnis yang akan tertangkap basah adalah mereka yang benar-benar tidak tahu di mana data pelanggan mereka tersimpan. Spreadsheet berserakan, aneka alat cloud acak, atau vendor yang memegang semuanya dan tidak mau menyerahkannya. Itu liabilitas yang berubah dari teoretis menjadi nyata di 2023.
Langkahnya tidak rumit: ketahui data pribadi apa yang Anda pegang, di mana ia tersimpan, dan apakah Anda bisa mengambil atau menghapusnya bila diminta. Memiliki data Anda sendiri secara rapi adalah soal kepatuhan sekaligus bisnis yang baik, argumen yang saya bangun di perencanaan exit vendor: kuasai kode dan data Anda sendiri. Nilai saya soal ini: penanganan data menjadi agenda nyata bagi UKM yang serius.
Prediksi 4: Digitalisasi B2B Mengejar Ketertinggalan dari B2C
Kebiasaan digital konsumen melaju kencang beberapa tahun terakhir. Proses business-to-business tertinggal, masih berjalan lewat pesanan telepon, PO kertas, dan rekonsiliasi manual. Prediksi saya adalah 2023 menjadi tahun B2B mulai menutup jarak itu.
Tekanannya sederhana. Ketika pelanggan sebuah distributor bisa memesan segala hal lain lewat ponsel hanya dengan tiga ketukan, proses pemesanan manual yang ribet mulai terasa purba. Saya memperkirakan lebih banyak operator B2B kecil dan menengah akan mendigitalkan pemesanan, inventori, dan pembayaran, bukan karena sedang tren, tapi karena rekan sejawat mereka sudah melakukannya dan itu semakin mudah dijalankan.
Nilai saya soal ini juga: ada pergerakan yang terukur dalam digitalisasi B2B di kalangan UKM sepanjang 2023.
Daftar Periksa Perencanaan untuk Tahun Baru
Jika Anda ingin bertindak atas ini alih-alih sekadar membacanya, berikut titik mulai yang saya sarankan:
- Pilih satu tugas internal dan coba pakai alat AI generatif untuknya, dengan manusia menyunting hasilnya.
- Identifikasi kebocoran biaya operasional terbesar Anda dan arahkan belanja teknologi pertama ke situ.
- Temukan di mana data pelanggan Anda sebenarnya tersimpan dan pastikan Anda bisa mengakses semuanya.
- Lihat satu proses B2B manual, pemesanan atau rekonsiliasi, dan tanyakan penghematan apa yang bisa didapat dari mendigitalkannya.
Empat langkah, tak satu pun butuh anggaran besar atau proyek heroik.
Kesimpulan
Tren teknologi untuk pemilik UKM di 2023 tidaklah eksotis. AI menjadi alat internal yang normal, efisiensi mengalahkan pertumbuhan, penanganan data mulai bertaring, dan B2B mengejar ketertinggalan dari B2C. Tidak glamor, masuk akal, dan bisa dinilai.
Kata terakhir itulah intinya. Saya akan kembali Desember tahun depan untuk menilai diri saya sendiri, dan saya lebih memilih jujur salah daripada samar-samar benar. Rencanakan berdasarkan ini, jalankan daftar periksanya, dan mari kita lihat bersama bagaimana hasilnya.